Kisah Perjuangan Nabi Muhammad ﷺ di Thaif Bersama Zaid bin Haritsah
Latar Belakang Perjalanan ke Thaif
Peristiwa ini terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Pada tahun itu, Nabi ﷺ kehilangan dua orang yang sangat beliau cintai dan mendukung dakwahnya:
- Istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid
- Paman beliau, Abu Thalib
Setelah wafatnya keduanya, kaum Quraisy semakin keras menyakiti Nabi ﷺ. Karena itu, beliau mencari tempat baru untuk berdakwah dan berharap penduduk Thaif mau menerima Islam.
Dengan penuh harapan, Nabi ﷺ berangkat menuju Thaif bersama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه.
Dakwah Nabi di Thaif
Sesampainya di Thaif, Nabi ﷺ mendatangi para pemimpin Bani Tsaqif dan mengajak mereka menyembah Allah SWT.
Namun, ajakan itu ditolak dengan kasar. Bahkan mereka mengejek dan menghina Rasulullah ﷺ. Salah seorang dari mereka berkata dengan sombong:
“Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain engkau untuk menjadi nabi?”
Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menghasut anak-anak kecil, budak, dan orang-orang bodoh untuk mengusir Nabi ﷺ dari kota.
Nabi ﷺ Dilempari Batu
Penduduk Thaif berbaris di jalan sambil melempari Rasulullah ﷺ dengan batu.
Batu-batu itu mengenai tubuh Nabi ﷺ hingga kaki beliau berdarah dan sandal beliau dipenuhi darah. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Nabi ﷺ dengan tubuhnya sendiri sampai kepala Zaid ikut terluka.
Meski disakiti sedemikian rupa, Nabi ﷺ tetap sabar dan tidak membalas keburukan mereka.
Akhirnya beliau berlindung di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah dalam keadaan sangat lemah dan sedih.
Doa Nabi ﷺ di Thaif
Dalam kesedihan yang mendalam, Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah SWT dengan doa yang sangat menyentuh:
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia…”
Doa ini menunjukkan betapa berat perjuangan dakwah Nabi ﷺ, namun beliau tetap bergantung hanya kepada Allah.
Malaikat Penjaga Gunung Datang
Setelah itu, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung.
Malaikat berkata:
“Jika engkau mau, aku akan timpakan dua gunung ini kepada penduduk Thaif.”
Tetapi Rasulullah ﷺ menolak.
Beliau justru berkata:
“Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata.”
Subhanallah, meskipun disakiti, Nabi ﷺ tetap mendoakan kebaikan bagi mereka.
Hikmah dari Peristiwa Thaif
1. Dakwah membutuhkan kesabaran
Nabi ﷺ tidak berhenti berdakwah walau dihina dan disakiti.
2. Membalas keburukan dengan kebaikan
Beliau memilih mendoakan hidayah untuk penduduk Thaif.
3. Sahabat sejati selalu menemani perjuangan
Zaid bin Haritsah menunjukkan cinta dan pengorbanannya kepada Rasulullah ﷺ.
4. Pertolongan Allah selalu dekat
Ketika manusia menolak, Allah tetap menjaga Nabi-Nya.
Penutup
Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ ke Thaif adalah bukti cinta beliau kepada umat manusia. Walaupun dilempari batu dan diusir, beliau tetap sabar, lembut, dan penuh kasih sayang.
Kisah ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tetap berbuat baik, bersabar dalam perjuangan, dan tidak mudah menyerah dalam menyampaikan kebenaran.



Komentar