Al-Qur'an dan Hadits sebagai Pedoman Hidup
A. PENGERTIAN AL-QUR'AN DAN HADITS
1. Pengertian Al-Qur'an
Arti bahasa : Bacaan atau sesuatu yang dibaca.
Menurut istilah adalah Kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, diriwayatkan secara mutawatir, dan membacanya bernilai ibadah.
2. Pengertian Hadits
Arti bahasa : Baru, dekat, atau perkataan/kabar.
Menurut istilah adalah Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan (Qauliyah), perbuatan (Fi'liyah), maupun ketetapan/persetujuan (Taqririyah).
B. NAMA-NAMA LAIN DARI AL-QUR'AN
Mengenalkan beberapa nama Al-Qur’an, antara lain:
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab yang diperintahkan untuk dibaca dan direnungkan. Membaca Al-Qur’an bukan hanya aktivitas lisan, tetapi hendaknya dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan isinya.
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.”(QS. Al-Qiyamah: 17–18)
2. Al-Kitab
Al-Kitab berarti kitab atau sesuatu yang ditulis. Al-Qur’an disebut Al-Kitab karena merupakan kitab suci yang diturunkan Allah SWT dan menjadi pedoman bagi manusia.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
3. Al-Furqan
Al-Furqan berasal dari kata faraqa yang berarti memisahkan atau membedakan. Al-Qur’an disebut Al-Furqan karena menjadi pembeda antara:
- Hak dan batil
- Benar dan salah
- Halal dan haram
- Petunjuk dan kesesatan
- Kebaikan dan keburukan
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)
4. Adz-Dzikr
Artinya: Peringatan/Pengingat, Adz-Dzikr berarti peringatan, nasihat, atau sesuatu yang mengingatkan. Al-Qur’an disebut Adz-Dzikr karena mengingatkan manusia kepada Allah SWT, akhirat, kewajiban, serta akibat dari perbuatan manusia.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
5. At-Tanzil
Artinya: Yang diturunkan, Al-Qur’an disebut At-Tanzil karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril.
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu'ara: 192–194)
C. KEISTIMEWAAN AL-QUR'AN
1. Kalam Allah SWT
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ
“Dan jika di antara orang-orang musyrik itu ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia sempat mendengar firman Allah.”(QS. At-Taubah: 6)
Karena Al-Qur’an adalah firman Allah, maka kita harus:
- Menghormatinya.
- Membacanya dengan adab.
- Mendengarkan ketika dibacakan.
- Mempelajari maknanya.
- Mengamalkan ajarannya.
2. Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ
قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ
“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya...” (QS. Al-Isra’: 88)
Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ. Keindahan bahasa, kandungan, petunjuk, dan tantangan Al-Qur’an tidak dapat ditandingi oleh manusia.
Allah juga memberikan tantangan:
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ “Maka buatlah satu surah semisal dengannya...” (QS. Al-Baqarah: 23)
3. Membacanya bernilai ibadah
Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Bahkan setiap huruf yang dibaca mendapatkan pahala dari Allah SWT.Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan.”
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan:
وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 2910)
4. Menjadi petunjuk bagi manusia
Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:
- Akidah dan keimanan.
- Ibadah.
- Akhlak.
- Hubungan dengan orang tua.
- Hubungan dengan sesama.
- Kejujuran dan amanah.
- Cara menghadapi kehidupan.
- Perbedaan antara yang benar dan yang salah.
Allah SWT berfirman:
هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
5. Terjaga keasliannya
Sejak zaman Rasulullah ﷺ, Al-Qur’an dijaga melalui:
- Hafalan para sahabat.
- Penulisan wahyu.
- Pengajaran dari guru kepada murid.
- Hafalan umat Islam dari generasi ke generasi.
Sampai sekarang, jutaan umat Islam menghafalkan Al-Qur’an di berbagai penjuru dunia.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
6. Berlaku sebagai petunjuk sepanjang zaman
Teknologi dan zaman boleh berubah. Cara manusia berkomunikasi boleh berubah. Tetapi prinsip dasar Al-Qur’an seperti:
- Keimanan,
- kejujuran,
- keadilan,
- amanah,
- berbakti kepada orang tua,
- menjaga kehormatan,
- dan beribadah kepada Allah
- Keimanan,
- kejujuran,
- keadilan,
- amanah,
- berbakti kepada orang tua,
- menjaga kehormatan,
- dan beribadah kepada Allah
tetap relevan sepanjang zaman.
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan...” (QS. Saba’: 28)
Allah juga berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
D. ADAB TERHADAP AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah Kalamullah yang mulia. Karena itu, seorang Muslim hendaknya memiliki adab ketika membaca, mendengarkan, memegang, dan mengamalkan Al-Qur’an.
1. Berwudhu ketika menyentuh mushaf
Salah satu dalil yang menjadi dasar pendapat mayoritas ulama tentang tidak menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci adalah hadis dalam surat Nabi ﷺ kepada penduduk Yaman:
أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ
“Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.”
2. Membaca dengan tartil
Allah SWT berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
3. Menghadap kiblat jika memungkinkan
Menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an merupakan adab yang dianjurkan, bukan syarat sah membaca Al-Qur’an.
Tidak ada dalil khusus yang secara tegas menyatakan bahwa seseorang wajib menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an. Namun, menghadap kiblat termasuk bentuk memuliakan ibadah dan menjaga sikap yang baik ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
🌱 Contoh
- Di masjid → sebaiknya menghadap kiblat.
- Di kelas TPQ → dapat diarahkan menghadap kiblat.
- Di kendaraan → tidak harus menghadap kiblat.
- Saat menghafal sambil berjalan → tidak harus menghadap kiblat.
4. Membaca ta'awudz dan basmalah
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Ta'awudz yang biasa dibaca:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
5. Mendengarkan ketika Al-Qur’an dibacakan
Allah SWT berfirman:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A'raf: 204)
Ketika Al-Qur’an sedang dibacakan, kita hendaknya:
- Mendengarkan dengan baik.
- Tidak berbicara sia-sia.
- Tidak bercanda.
- Tidak membuat keributan.
- Memperhatikan bacaan.
6. Menjaga dan menghormati mushaf
Allah SWT berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Al-Qur’an harus diperlakukan dengan penuh penghormatan. Contohnya:
- Meletakkan mushaf di tempat yang bersih dan layak.
- Tidak melempar atau meletakkan barang di atas mushaf.
- Tidak menginjak mushaf.
- Tidak membawa mushaf ke tempat yang tidak pantas.
- Menjaga mushaf dari kotoran dan kerusakan.
- Tidak memperlakukan mushaf dengan sembarangan.
7. Mengamalkan isi Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ
“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya...” (QS. Al-Baqarah: 121)
Membaca Al-Qur’an hendaknya tidak berhenti pada lisan, tetapi dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan petunjuknya.
E. KEDUDUKAN HADIST
Hadis memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Hadis merupakan sumber ajaran Islam setelah Al-Qur’an dan menjadi penjelas serta contoh nyata dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk menaati Rasulullah ﷺ. Apa yang beliau perintahkan kita laksanakan, dan apa yang beliau larang kita tinggalkan. Hadis membantu kita memahami bagaimana ajaran Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan, karena Rasulullah ﷺ adalah teladan bagi umat Islam.
Contoh:
Al-Qur’an memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, sedangkan hadis menjelaskan tata cara shalat, jumlah rakaat, bacaan, dan gerakannya.
F. FUNGSI HADIST
Hadis berfungsi untuk:
- Menjelaskan ayat Al-Qur’an
- Merinci perintah yang masih umum
- Menguatkan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an
- Memberikan contoh penerapan ajaran Al-Qur’an
G. DERAJAT HADIST
Derajat hadis adalah tingkatan atau kualitas hadis berdasarkan tingkat kekuatan dan keabsahannya. Para ulama melakukan penelitian terhadap sanad (rantai periwayatan) dan matan (isi hadis) untuk mengetahui apakah sebuah hadis dapat dipercaya dan dijadikan dasar dalam ajaran Islam.
Secara umum, hadis yang sering dikenalkan dalam pembelajaran adalah:
- Hadis Shahih — hadis yang memenuhi persyaratan keabsahan yang sangat kuat dan dapat dijadikan hujah.
- Hadis Hasan — hadis yang dapat diterima dan dijadikan hujah, meskipun tingkat ketelitiannya di bawah hadis shahih.
- Hadis Dha'if — hadis yang tidak memenuhi persyaratan hadis shahih atau hasan sehingga tingkat kekuatannya lebih rendah.
- Hadis Maudhu' — hadis palsu yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, padahal bukan perkataan atau ajaran beliau.

Komentar